Rabu, 09 Februari 2011

Krakatau

Krakatau, siapa yang tidak kenal gunung legendaris yang terletak di Selat Sunda ini, yang ledakannya pada tahun 1883, menggetarkan seluruh dunia. Bagaimana cerita di balik ledakan maha dasyat itu?
Berikut ini adalah resensi dari buku "Krakatau Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883"
Penulis : Simon Winchester


dikutip dari KRAKATAU (http://artshangkala.wordpress.com)

KRAKATAU : Sekalipun apa yang terjadi dalam kehidupannya yang dulu sangat menakutkan, realita-realita geologi, realita-realita seismic, dan realita-realita tektonik Jawa dan Sumatra yang aneh akan memastikan bahwa apa yang dulu terjadi pada suatu ketika akan terulang lagi, dan dengan cara yang persis sama.

  
Runtutan Kejadian Sebelum dan Sesudah Meletusnya Krakatau

Empat bulan sebelum bencana, di tanah datar Afrika Selatan, dimulai musim dingin, orang-orang memperhatikan adanya sunset yang cerah dan indah. Perlahan-lahan mulai meningkat dari Februari sampai Juni.

Januari-Februari 1883 :
Hujan yang mengerikan
Banjir di Batavia pada bagian yang rendah
Bila tidak hujan cuaca sangat panas terik



Januari-Mei 1883:
Observatori di Batavia hanya mencatat 14 gempa bumi ( diantaranya 4 di Jatim dan 7 di Sumatra )
Tahun ini sepertinya terasa tenang dan orang-orang dininabobokan hingga lupa diri

10 Mei 1883 :
Penjaga mercusuar merasakan : Getaran di Udara!

Mercusuar seperti bergeser dari fondasinya. Laut di luar memutih, seakan membeku sesaat, tampak halus seperti kaca rias, sedikit menggeletar lalu menggelak memualkan.

Catatan : sekarang kita tahu bahwa air laut dapat membeku di atas ledakan bom jenis Deep Charge
Getaran terasa di Jawa Barat.

20 Me1 1883 :
Getaran udara terjadi lagi, lebih kuat, lebih luas dan lebih lama (berlangsung 1 jam terus-menerus).

Catatan : Getaran gempa bumi hanya terjadi hitungan detik, paling lama beberapa menit.
Getaran terasa di Jawa Barat dan Sumatera
Controleur Belanda melaporkan :

Getaran-getaran kuat dirasakan terus-menerus di pantai Sumatera sebelah utara dan barat Selat Sunda
Kapal Elizabeth(covette Jerman) sedang menarahkan layarnya ke Selat Sunda. Kaptennya melaporkan :

Sebuah awan kumulus putih naik dengan cepat nyaris vertical dari pulau itu. Setengah jam mencapai ketinggian 11.000 m. Dan menyebar seperti payung. Tak lama sorenya angin bertiup dari arah selatan-tenggara yang membawa debu halus dan meningkat dengan kuat. Seluruh kapal rata tertutup debu kelabu halus.
Pendeta Heims di atas kapal Jerman melaporkan :

Malam hari mereka tak mendengar ledakan apapun. Namun esok hari kapal seperti pabrik semen yang mengapung. Seluruh bagian kapal tertutup debu kelabu yang lengket dan tebal. Langit hujan abu, matahari seperti lampu biru pucat.
Kapal Zeeland berjarak 5 mil dari Krakatau melaporkan :

Jarum kompas berpusing tanpa guna. Ketika jarum tenang kembali, menunjukkan deviasi dari normal 12 derajat. Uap dan reruntuhan meraung-raung naik dari puncak gunung. Terdengar suara-suara seperti artileri berat dan rentetan tembakan mesin yang memekakkan telinga. Asap hitam raksasa naik dengan cepat dengan kilat dan petir di awan-awannya. Laut sekitar pulau memunculkan semburan-semburan air besar. Udara menjadi gelap.
10.55 WIB, Sebuah rumah berdempetan dengan Observatory Meterologis dan Magnetik Hindia Belanda. Piring makan terjatuh dari ruang makan dan pecah berkeping-keping. Dari barat terdengar suara rendah bergulung-gulung seperti tembakan artileri.
Penangkap ikan yang berada di P.Krakatau mendengar suara ledakan meriam 2 kali kemudian melihat pantai terbelah dan membuka. Semburan-semburan abu hitam serta batu-batu panas meluncur ke langit. Mereka lari pontang-panting. Laut lalu naik secara dramatis
Suara-suara aneh dan mencekam terdengar di Singapore (500 mil dari Utara).
Forbes, seorang kolektor tanaman bekerja di Timor (1.300 mil dari Krakatau) melaporkan adanya hujan abu.

22 Mei 1883
Pulau kembali tenang, hanya saputan asap dan uap putih mengambang di atas kawah.
Setelah bukaan awal tersebut, sebuah tim Belanda menuju Krakatau dan melaporkan : Hutan tropisnya lenyap. Asap naik seperti keluar dari oven bergulung-gulung hingga 1200 m, lalu melebar dan naik hingga 3.000 m. Warnanya memudar dan abu tertiup angin timur membentuk latar belakang lukisan pemandangan.
8 minggu kemudian suasana tenang kembali seperti tidak terjadi apa-apa

Penyebaran berita Krakatau – Mei 1883

Telegram Agen Schuit dari Anyer ke London pada 23 Mei pukul 3 pagi, dengan menggunakan dua macam alat yang baru saja diciptakan : telegraf listrik dan telegraf bawah laut. Diterima di kantor pusat Lloyd’s pukul 10 malam. Lalu dikirim ke The Times diterbitkan 24 Mei. Berkat semua pihak yang terlibat : Samuel Morse; para direktur India Rubber, Gutta Percha dan Telegraph Works Company; Eastern Telegraph Company, Dewan Komisaris Lloyd’s, Reuter dan sejumlah koresponden yang penuh semangat di Anyer, Batavia dan London, cerita yang menakjubkan itu bisa disajikan.

1 Agustus 1883
Seorang Kapten AD Belanda mendatangi pulau tersebut untuk melakukan survei topografi militer dan membuat peta pulau. 2 Agustus, ia meninggalkan pulau. Dan ia menjadi orang terakhir yang menginjakkan kaki sebelum meletusnya Krakatau

Pertengahan Agustus 1883
Seekor gajah kecil di sebuah sirkus mengamuk hebat. Tak seorangpun menyadari penyebabnya.

Meletusnya Krakatau

27 Agustus 1883

99 hari dari letusan sebelumnya, kedua pelat tektonik yang bertemu di pulau Jawa yang perlahan-lahan tapi mantap mendekat dan menyikut, empat inchi per tahun maka Puncaknya terjadi saat ini.
10.02 pagi, Krakatau meletus.

Laut naik dan turun, dengan sangat kuat, tidak teratur, sangat berbahaya.

Dalam sedetik seluruh Anyer diselimuti debu dan awan sangat gelap. Awan berganti-ganti warna, dari putih (ketika terdiri dari uap) menjadi hitam (terdiri atas asap letusan). Dalam sekian detik malam seakan turun di atas pelabuhan Anyer.

Sebuah laporan dari Batavia, terdengar bunyi mendesing sangat keras. Laporan lain mengatakan ‘hujan batu apung’, ‘hujan abu kasar’, ‘kapal-kapal buyar tak terkendali di pelabuhan’, ‘makin gelap’.
Kapal Inggris Madea melaporkan sore itu asap naik sampai 17 mil. Setiap beberapa menit terjadi ledakan yang mengguncang kapal, padahal kapal 80 mil dari tempat kejadian.
Gasometer, meteran tekanan pabrik gas Batavia memberikan catatan yang luar biasa akurat, menit demi menit. Terjadi lonjakan mercuri setinggi 2.5 inchi di udara.
5 sore

Suasana gelap pekat melanda seluruh pantai Jawa. Butiran batu apung besar mengucur deras dari langit. Udara yang masuk ke paru-paru kotor, panas, penuh belerang, beracun, membuat orang kehilangan orientasi dan bingung.
Laporan Kapten Kapal Charles Bal, disisi kanannya gunung-gunung besar Sumatera dan sisi kirinya pulau-pulau selat sunda.

1.30 siang : Awan-awan dilontarkan dari titik timur laut dengan kecepatan tinggi.

3.30 sore : terdengar seperti tembakan yang kuat seperti artileri berat dengan interval satu atau dua detik.

5.00 sore : ledakan-ledakan masih terjadi. Kegelapan menyebar ke seluruh langit dan hujan batu apung menghajar kami. Potongannya besar dan terasa panas. Kami menutup anjungan, mengenakan sepatu boot dan topi sou’westers (topi kedap air yang dipakai pelaut).

7 malam : mengerikan. Jarak pandang nol Hujan pasir dan batu yang membutakan. Sesekali diselingi petir dan ledakan-ledakan.

11 malam : pulau itu terlihat. Rentetan-rentetan api terlihat naik dan turun antar gunung itu dengan langit di atasnya. Sementara di ujung barat daya bola-bola api putih bergulung-gulung tanpa berhenti. Angin kencang, panas dan mencekik dengan bau belerang dan percikan bara besi.

Tengah malam – 4 pagi : kegelapan pekat masih berlanjut. Raungan Krakatau tidak sekontinyu sebelumnya. Ledakannya makin keras. Langit sedetik hitam pekat, namun detik berikutnya terang berderang akibat lecutan petir. Api menyentuh tiang kapal dan pancang-pancang layar.

6 pagi, kami dapat melihat pantai Jawa.

10.15 pagi kami melewati Buttin Island, setengah sampai tiga perempat mil jauhnya, laut sekitar mirip kaca dan cuaca tampak lebih baik, tanpa hujan abu atau bara api lemah dari tenggara.

11.15 siang terjadi ledakan mengerikan dari Krakatau. Kami sudah 30 mil jauhnya. Sebuah gelombang dasyat menghantam Button Island dan menyapu bersih bagian selatannya.

11.30 – 1.30 siang : kami diselimuti kegelapan yang nyaris diraba dengan tangan dan dihujani Lumpur, pasir dan entah apa lagi. Pada tengah hari kegelapan sangat kental sampai kami harus meraba-raba di geladak, sekalipun kami berteriak sambil bertatapan muka, kami tetap tidak bisa melihat wajah satu sama lain. Hujan Lumpur dan puing berlangsung sampai 1.30 siang.

2 siang : kami bisa memandang sampai beberapa yard ke depan. Hujan Lumpur berhenti.

5 sore : cakrawala utara dan barat terbuka, kami melihat West Island di arah timur laut dengan samar-samar.

Tengah malam : langit berat dan gelap. Kadang-kadang hujan pasir sedikit. Gelegar gunung berapi itu masih terdengar di kejauhan sekalipun kami sudah 75 mil jauhnya dari sana.
Sebuah kapal melaporkan, barometer mereka anjlok begitu rendah dan nyaris tak dipercaya, semua kronometer secara misterius macet total.
Pukul 6 sore kabel yang menghubungkan Anyer dengan Batavia akhirnya putus.
Biarawan Katolik Julian Tenison Woods menulis sepucuk surat tentang berbagai peristiwa kepada Koran Sydney Morning Herald:

Saat-saat terakhir Krakatau sepanjang 20 jam 56 menit ditandai dengan sejumlah fase. Pertama, Minggu siang sampai jam 7 sore terjadi serentetan ledakan dan letupan dengan frekuensi dan kekuatan yang meningkat. Sejak sore mulailah hujan abu dan batu apung. Mulai jam 8 malam air menjadi perantara transmisi energi vulkanik berikutnya, dan ketika malam semakin larut, laut di selat Sunda ganas tak terkendali.

Sebelum tengah malam, serangkaian gelombang udara, getaran-getaran frekuensi rendah yang bergerak dengan cepat secara tak kasat mata dan tak terdengar dikirimkan oleh letusan gunung mencapai Batavia. Bola waktu pada jam astrologi di pelabuhan Batavia mati 18 detik sesudah jam 11.32 malam akibat getaran-getaran tanpa henti. Bukti yang bisa terdengar dari ledakan-ledakan itu mulai memancar keluar. Laporan dari Singapore dan Penang bahwa suara-suara yang terbekap itu bisa didengar pada saat yang sama. Di Batavia sejumlah besar orang terjaga karena ledakan-ledakan itu. Lampu-lampu gas di Koningsplein mendadak redup pada jam 1.55 pagi. Sepanjang Rijswijk, jalan pertokoan utama, beberapa jendela secara mendadak dan misterius pecah berantakan pada waktu hampir bersamaan.
Krakatau meledak 4 kali : 5.30 pagi, 6.15 pagi, 6.44 pagi dan terdasyat 10.02 pagi.
Laporan seorang konsul Inggris di Batavia :

Sebagian pulau Krakatau, pulau Temposa dan pulau-pulau kecil di selat Sunda menghilang. Beting karang telah terbentuk di antara pulau Krakatau dengan pulau Sibesi, jalur yang biasanya dilalui kapal-kapal. Sebuah pulau di pintu masuk utara ke Selat itu dilaporkan pecah menjadi lima bagian, sementara banyak pulau kecil bermunculan, padahal dulu tidak ada.

Kerusakan yang diakibatkan oleh gelombang-gelombang di pantai, baik nyawa manusia maupun property tidak bisa ditentukan dengan pasti, mengingat laut masih berombak dan hujan abu masih berlangsung. Komunikasi telegraf fan jalan terputus ataupun terganggu.

Seluruh pantai tenggara Sumatra mengalami kerusakan sangat parah akibat gelombang laut.

Ribuan penduduk pribumi yang menghuni desa-desa pantai telah lenyap.

Pantai barat Jawa dari Merak samdai Tjeringin menjadi rata dengan tanah.

Anyer, Bandar dimana kapal-kapal dengan tujuan laut Jawa dan Laut Cina berhenti menunggu perintah,dan yang tadinya merupakan kota ramai dengan penduduk ribuan orang, telah lenyap. Lokasinya menjadi rawa. Mercusuar di Anyer (Fourth Point Jawa) rusak parah.

Banyak orang Eropa termasuk pejabat dan beribu-ribu penduduk pribumi tewas tenggelam. Di distrik Tjeringin pantai tenggara Jawa tak kurangdari 10.000 orang tewas.

Akibat hujan abu menutupi seluruh daerah itu, ternak tak mendapat makanan seperti biasa dan diambil langkah untuk memasok makanan untuk manusia dan hewan di daerah-dearah terkena bencana.

Penduduk pribumi menjadi sangat miskin akibat kerusakan pohon buah-buahn dan kelapa yang merupakan sumber kekayaan mereka. Sementara kebun-kebun kopi dan teh mengalami kerusakan parah.
Sebuah gelombang raksasa kemudian meninggalkan Krakatau persis 10.00 pagi dan dua menit kemudian menurut semua instrument yang mencatatnya, ledakan terbesar terdengar sampai ribuan mil jauhnya, dan sampai sekarang masih dikatakan ledakan terdasyat yang pernah di catat manusia modern. Awan gas, batu apung putih panas, api dan asap dilontarkan ke langit seakan-akan melalui kanon maha besar sampai setinggi 24 mil.
Ada orang-orang selamat dengan mengherankan. Seorang lelaki tertidur lelap di rumahnya dan ketika bangun baru sadar bahwa ombak telah membawa dia dan dipannya ke puncak sebuah bukit dan menempatkannya dengan selamat. Lelaki lain mencengkram erat-erat seekor sapi dan mengambang sampai tempat yang lebih tinggi. Yang sulit dipercaya adalah orang yang tersapu ke darat bersama-sama seekor buaya. Ia naik ke punggung buaya itu dan menancapkan jari-jemarinya dengan erat ke soket mata si buaya!

Efek-Efek
Tsunami

Sesudah letusan Krakatau, 165 desa hancur lebur, 36.412 orang tewas dan ribuan orang cedera dan hampir semua di antara mereka, desa-desa dan penduduknya bukan korban langsung dari letusan, melainkan efek letusan, yaitu gelombang tsunami. Jadi perlu diingat : bukanlah api atau gas atau aliran lava yang menewaskan sebagian besar korban Krakatau. Kecuali 1000 orang yang terbakar di Sumatra oleh abu panas dan batu apung serta gas-gas yang membuat mereka terkelupas.

Membutuhkan waktu 37 menit tsunami mencapai Anyer. 15 menit kemudian menghancurkan Merak.

Tsunami yang menewaskan banyak orang di Jawa dan Sumatra bergerak ke seluruh dunia. Tsunami bergerak hingga ke perairan English Channel, Cherbourg, le Havre, Davenport; Aden; Karachi, Bombay, Calcuta; Sungai Hooghly Inggris; Ceylon, Hambatota Panama; Port Louis, Mauritius’ pantai timur Affrika Selatan, Cape Town; South Georgia Kutub Selatan; Socoa Prancis, Charente, Bordeaux.
Bunyi Ledakan Krakatau

Terdengar keras sampai Mauritius, Rodrigues 2.968 mil dari Krakatau. Tempat-tempat lain yang mendengar ledakan Krakatau antara lain : Philadelphia, New York, West Virginia, San Fransisco, Saigon, Bangkok, Manila, Perth, Darwin, Ceylon, New Guinea, Australia Barat, Aceh, Karibia. Di Singapura, semua pesawat telepon, tak bisa mendengar suara jelas, hanya raungan mirip air terjun. Sejumlah besar orang di Batavia, Buitenzorg dan Jawa Barat pada umumnya tidak mendengar apa-apa. Mereka merasa tuli tanpa alasan yang jelas atau mendengar dengung di telinga atau merasa tekanan udara berubah-ubah, seakan mereka terjebak di dalam suatu hipertensi atmosferik yang bisu.

Barograf adalah pencatat variasi tekanan atmosfer. 27 Agustus mencatat lonjakan-lonjakan tajam ke atas dan bawah serta sangat tak terduga.. Sepertinya cuaca sedang terbatuk-batuk. Sesuatu yang sepertinya mustahil yaitu gempa bumi di udara.

Setelah diteliti oleh para ahli, gelombang kejut dari letusan Krakatau ternyata telah melakukan perjalanan keliling dunia, bahkan sampai 7 kali! Dan memakan waktu hingga 15 hari setelah letusan. Gelombang-gelombang ini terpantul maju mundur dan ke segala penjuru planet ini dengan proporsi yang luar biasa dibandingkan besarnya kejadian aslinya sendiri.
Suhu

Suhu di Batavia dingin membeku. Awan-awan tebal menggantung di langit selama beberapa hari kemudian dan menyelimuti kota itu dan daerah sekitarnya radius 15 mil dengan seperti kelabu tak dapat ditembus sinar matahari.

Penelitian mengungkapkan telah terjadi penurunan suhu di seluruh dunia, rata-rata satu derajat Fahrenheit. Ini terjadi bersamaan dengan letusan Krakatau.
Seni

Seni terlahir dari efek-efek gunung berapi itu. Seni yang sangat tak terduga. Jutaan ton debu yang dilontarkan ke langit di atas Hindia Belanda menyebar ke seluruh penjuru dunia selama bertahun-tahun dan menciptakan segala macam fenomena pemandangan langit senja nan indah, dalam bentuk pelangi aneka warna yang menghias langit dan menggugah perhatian sejumlah besar pelukis yang tiba-tiba menjadi begitu bergairah. Diantara para pelukis tersebut : Frederic Edwin Church pelukis abad ke 19 Amerika dan William Ascroft pelukis yang tinggal di pinggir sungai Thames menciptakan 533 lukisan selama beberapa bulan.

Para penyair juga terinspirasi. Tennyson merangkai syair tak terlupakan yaitu St. Telemachus

Pemandangan langit indah terdapat di Bishop’s Rings, Honolulu, Santiago Chili, Teluk Meksiko, Nashville, Buenos Aires, Canary Islands, Shanghai, Tasmania, Afrika Selatan, Chili Selatan, Kanada Barat, California, Inggris, Denmark, Turki, Rusia dan Siberia. Pemandangan ini sepenuhnya menghilang awal 1886.

Penjelasan

Air faktor yang sangat menentukan dalam proses ini. Ia melumasi gerakan pelat-pelat itu dan membantu subsuksinya berjalan terus, bahkan dalam jumlah yang tidak begitu besar, kehadirannya menurunkan suhu di mana batu-batuan mantel bumi akan mulai meleleh. Air merendahkan kerapatan campuran batu-batuan berbentuk baji, menjadi rute exit yang sempurna bagi batuan setengah meleleh di bawahnya, yang memungkinkannya bergerak cepat ke atas, meleleh lebih jauh lagi akibat dekompresi seperti yang disebutkan sebelumnya. Ketika karbondioksida yang terurai dan uap air mendadak berubah kembali menjadi gas dan buih, seluruh massa itu meluncur ke atas sebagai semburan eksplosivitas yang fenomenal ke udara terbuka, sebagai gunung berapi zona subduksi yang klasik dan raksasa.

Krakatau masih ada dan akan bertingkah lagi dan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Proses-proses yang mengarah pada kejadian 1883 tak dapat dihentikan. Ada subduksi factory dengan proporsi monumental di selatan dan timur Sumatra. Uniknya zona itu terletak di sekitar dan bawah pulau kecil yang berdiri di engsel antara Sumatra dan Jawa. Pulau itu dikitari oleh air laut yang volatile, yang akan mendatangkan bencana jika ia masuk sampai jarak satu mil magma yang mendidih itu. Pulau itu sendiri dikitari patahan-patahan kecil dan zona-zona lemah yang tak terhitung jumlahnya, juga oleh komponen batuan dasar, batuan asam, batuan sedimenter yang meliuk-liuk dan berputar-putar ke segala arah di bawah tekanan besar yang paling menonjol di sini dibandingkan dengan tempat manapun di bumi ini. Tidak mengherankan jika hanya ada satu Krakatau. Tempat gunung itu meletus sampai lenyap tadi adalah tempat yang secara geologis sangat berbahaya, sehingga orang tak ingin membayangkan apakah dunia ini tersedia cukup ruang bagi selusin gunung lain yang serupa.

Perlawanan Penjajahan

Terjadi berbagai pemberontakan sebagai salah satu tonggak jalan menuju kemerdekaan Indonesia, awal berakhirnya pemerintah Belanda. Islam yang mendorong orang-orang Banten untuk berperang brutal 1888, kemudian hari berkembang menjadi struktur organisasional revolusi mendatang. Indonesia dulu dan sekarangpun tetap Negara muslim dengan Islam di Jawa dan Sumatra sekarang dalam suasana hati jauh lebih agresif ketimbang jauh di masa lampau.

Sampai sejauh itu, letusan Krakatau memang membantu memicu gerakan religius dan politis membara di Jawa yang meninggalkan bekas tak terhapus pada pemerintah Hindia Belanda.





Tidak ada komentar: